Catat, ini Perbedaan Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara

Catat, ini Perbedaan Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara

Hamengku Buwono VII. Foto: Istimewa--

JOGJA, oganilir.co - Nama-nama raja kesultanan di Daerah Istimewa Yogyakarta sering kali kita dengar. Ada nama Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara. Keempatnya memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Mataram Islam yang dulu berjaya di Jawa Tengah, namun kini menjadi simbol keberlanjutan tradisi kerajaan yang masih hidup hingga zaman modern.

Setelah runtuhnya Mataram akibat konflik internal dan campur tangan kolonial, kerajaan ini terpecah menjadi empat entitas utama. Dari Perjanjian Giyanti lahirlah Kesultanan Yogyakarta yang dipimpin Hamengku Buwono dan Kasunanan Surakarta di bawah Paku Buwono.

Beberapa dekade kemudian, muncul dua kadipaten otonom: Pakualaman dan Mangkunegaran. Masing-masing memiliki sejarah, struktur kekuasaan, serta simbol kebangsawanan yang unik.

BACA JUGA:Unggul Jumlah Pemain, Ronaldo cs Tersingkir di Babak 16 Besar Piala Raja Arab 2025

Penasaran apa bedanya Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegaran, baik dari gelar, asal-usul, maupun peran dalam sejarah Jawa? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Poin utamanya:

- Empat kerajaan di Jawa, yaitu Jogja, Pakualaman, Solo, dan Mangkunegaran merupakan hasil pecahan Kesultanan Mataram Islam.

- Hamengku Buwono dan Paku Alam berpusat di Jogja, sedangkan Paku Buwono dan Mangkunegara berada di Solo.

- Masing-masing memiliki gelar dan peran simbolik yang berbeda dalam menjaga warisan budaya dan politik Mataram.

Runtuhnya Kesultanan Mataram

BACA JUGA:Pangeran Harry-Meghan Siap Kembali ke Istana, Raja Charles Ogah Terima

Sebelum membahas mengenai perbedaan antara Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara, kita perlu menilik sejarah Kesultanan Mataram. Dirangkum dari buku Ensiklopedi Raja-raja dan Istri-istri Raja di Tanah Jawa tulisan Krisna Bayu Adji, Raden Mas Sayidin yang dikenal sebagai Amangkurat I atau Sri Susuhunan Amangkurat Agung, merupakan raja kelima sekaligus penguasa terakhir Mataram Islam.

Di bawah kepemimpinannya, kerajaan mengalami masa kemunduran akibat konflik politik, pemberontakan, dan ketegangan keluarga. Setelah memindahkan ibu kota dari Kerta ke Plered pada 1674, Amangkurat I menghadapi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Trunajaya dari Madura dengan dukungan pasukan Makassar dan sebagian bangsawan Mataram, termasuk putranya sendiri, Raden Mas Rahmat.

Keruntuhan istana Plered pada 1677 menandai runtuhnya Mataram Islam sebagai kerajaan tunggal. Setelah Amangkurat I wafat di pengasingan pada 13 Juli 1677, Raden Mas Rahmat naik takhta dengan gelar Amangkurat II dan mendirikan pusat pemerintahan baru di Kartasura pada 1680. Namun, konflik politik dan perebutan kekuasaan terus terjadi hingga akhirnya kerajaan Mataram terpecah.

BACA JUGA:Usai Pengakuan Inggris, Palestina Langsung Buka Kedubes di London

Sumber: