5 Tanda Kepribadian Seseorang yang Suka Oversharing Menurut Ilmu Psikologi

5 Tanda Kepribadian Seseorang yang Suka Oversharing Menurut Ilmu Psikologi

Kepribadian Seseorang yang Suka Oversharing --

oganilir.co - Kamu pernah bertemu dengan orang yang sering berbagi informasi mengenai banyak hal, bahkan mengenai hal pribadi sekalipun? Atau ternyata, kamu merupakan tipe orang tersebut? Bisa jadi kamu merupakan orang yang suka oversharing

Mengutip dari Better Up, oversharing adalah berbagi informasi pribadi lebih banyak daripada yang diperlukan untuk hubungan atau situasi tertentu. Baik saat kamu berbicara dengan teman, rekan kerja, atau orang asing, setiap hubungan memiliki tingkat keterbukaan emosional yang berbeda.

oversharing yang berlebihan terjadi ketika kita melampaui batasan-batasan tersebut dan berbagi mengenai kehidupan pribadi terlalu cepat, bahkan kepada orang yang baru kita kenal secara langsung atau melalui media sosial. 

Menurut ilmu psikologi sendiri, ada beberapa ciri kepribadian dari orang yang suka oversharing. Simak penjelasannya berikut ini!

1. Menginginkan Koneksi Secara Intens

Ciri kepribadian pertama dari orang yang suka oversharing yakni sering menginginkan koneksi atau kedekatan dengan orang lain secara intens.

Saat merasa kesepian, banyak orang merasakan ‘haus’ koneksi secara emosional, sehingga bersikap oversharing atau berbagi informasi mengenai hal pribadi menjadi ‘jalan pintas’ yang kerap dipilih.

Namun, perlu diketahui bahwa koneksi atau kedekatan yang nyata perlu dibangun secara perlahan-lahan dan tidak bisa melalui proses instan. 

2. Merasa Kesepian

Orang-orang yang merasa kesepian diam-diam menginginkan koneksi atau hubungan. Mereka yang suka oversharing menjadikan hal tersebut sebagai upaya untuk tetap terhubung dengan orang lain, serta dengan harapan bahwa orang lain akan membalas dengan komentar atau tombol suka di media sosial.

Melalui hal ini, mereka ingin berinteraksi dengan orang lain seperti di media sosial dengan cara yang mungkin tidak dapat dilakukan di dunia nyata. 

3. Punya Tingkat Kecemasan yang Tinggi

orang-orang yang suka oversharing kemungkinan punya tingkat kecemasan yang tinggi. Melansir dari GE Editing, rasa cemas membuat pikiran berpacu cepat, bahkan membuat ‘keheningan’ terasa mengancam.

Ketika seseorang merasa cemas saat menghadapi situasi sosial baru, mereka menggunakan sikap oversharing sebagai ‘pelepasan’ dari rasa cemas tersebut. Dengan berbicara, mereka bisa mencegah kecanggungan, menenangkan saraf, dan mengisi ruang interaksi.

Psikolog menyebut ini "pengungkapan diri untuk regulasi emosional”, atau menggunakan kata-kata untuk meredakan ketidaknyamanan.

4. Kurang Memiliki Batasan

Orang-orang yang suka oversharing berlebihan terkadang kurang memiliki batasan pribadi, Beauties. Melansir dari Psychology Today, hal ini karena mereka tidak menyadari bahwa ada beberapa hal yang ‘kurang pantas’ untuk diceritakan kepada orang lain, misalnya mengungkapkan masalah hubungan pribadi atau masalah keuangan kepada orang asing.

Di sisi lain, seseorang yang kurang memiliki batasan atau boundaries terkadang kurang memiliki hubungan yang dekat, hal ini kemungkinan besar karena mereka telah membuat orang-orang di sekitarnya menjauh. 

Akibatnya, orang-orang seperti ini sering kekurangan orang kepercayaan yang tertarik untuk mendengarkan masalah pribadi mereka.

5. Egois

Beberapa orang kerap bersikap egois dan berpikir bahwa setiap hal yang mereka lakukan sangat penting bagi orang lain. Melansir dari Huff Post, setiap orang secara alami memiliki sisi egois masing-masing, sehingga mudah melupakan bahwa dunia tidak berputar pada diri sendiri. 

Sifat ini juga biasanya dikaitkan dengan kepribadian narsistik yang membuat seseorang percaya bahwa dirinya adalah pusat dunia.

Sumber: