Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan pada Sabtu (14/2/2026) bahwa meskipun Trump lebih memilih kesepakatan damai dengan Teheran, hal itu tetap"sangat sulit untuk dilakukan. Di sisi lain, Trump terus memperkuat kehadiran militer AS di kawasan tersebut.
Kementerian Pertahanan AS pada Jumat (13/2026) mengonfirmasi pengiriman kapal induk tambahan ke Timur Tengah, lengkap dengan ribuan tentara, jet tempur, dan kapal perusak rudal pemandu yang siap melakukan serangan maupun pertahanan.
Isyarat perubahan rezim
Berbicara setelah acara militer di Fort Bragg, North Carolina, Trump secara terbuka melontarkan kemungkinan perubahan pemerintahan di Iran. "Tampaknya itu (perubahan rezim) akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi," ujar Trump.
BACA JUGA:Diancam AS, Garda Revolusi Iran Gelar Latihan Tembak di Selat Hormuz
Meski menolak menyebutkan siapa yang ia inginkan untuk memimpin Iran, dia menyatakan bahwa orang-orangnya sudah ada. Trump juga menyampaikan rasa frustrasinya terhadap upaya diplomasi yang telah berlangsung lama dengan Iran.
"Selama 47 tahun, mereka terus berbicara, berbicara, dan berbicara," kata Trump.
Meski demikian, Trump tetap menunjukkan skeptisisme terhadap pengiriman pasukan darat. Hal ini mengindikasikan bahwa opsi serangan AS kemungkinan besar akan bertumpu pada kekuatan udara dan laut.
Menanggapi persiapan operasi militer jangka panjang ini, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan bahwa semua opsi masih terbuka.
BACA JUGA:Hubungan Memanas dengan Iran, AS Buka Pangkalan Udara di Qatar
"Presiden Trump memiliki semua opsi di atas meja terkait Iran. Beliau mendengarkan berbagai perspektif tentang masalah apa pun, tetapi keputusan akhir diambil berdasarkan apa yang terbaik bagi negara dan keamanan nasional kita," tegas Kelly.
Dukungan oposisi dan sekutu
Di tengah ketegangan ini, tokoh oposisi Iran Reza Pahlavi justru mendesak Washington untuk tidak terlalu lama bernegosiasi. Putra dari mendiang Shah Iran ini menilai serangan militer AS dapat mempercepat jatuhnya pemerintahan di Teheran.
"Kami berharap serangan ini akan mempercepat proses tersebut sehingga rakyat akhirnya bisa kembali ke jalanan dan membawanya hingga kejatuhan rezim yang terakhir," kata Pahlavi dalam wawancara dengan Reuters.
BACA JUGA:Giliran Prancis Larang Penggunaan Medsos Bagi Anak-Anak
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang bertemu Trump di Washington pada Rabu lalu menekankan bahwa kesepakatan apa pun dengan Iran harus menguntungkan keamanan negaranya.
"Jika kesepakatan dengan Iran tercapai, itu harus mencakup elemen-elemen yang vital bagi Israel," tegas Netanyahu.
Hingga saat ini, Iran menyatakan siap mendiskusikan pembatasan program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi, namun mereka tetap menolak untuk merundingkan masalah program rudal mereka. (Kompas.com/dri)