BACA JUGA:Hari Pahlawan, Digelar Upacara dan Ziarah Ke Taman Makam Pahlawan Kesatria Seguguk Ogan Ilir
Kartini sukses menjalani perannya sebagai istri dan ibu yang terus semangat mewujudkan cita-citanya. Kehidupan bersama keluarga bahagianya juga menjadi penyemangat RA Kartini untuk membangun lebih banyak lagi sekolah dan yayasan untuk kaum perempuan.
Perjuangannya sukses, Yayasan Kartini yang didirikan oleh keluarga Van Deventer, tokoh Politik Etis membangun banyak sekolah Kartini di berbagai daerah, seperti Rembang; Jepara; Demak; Semarang; Surabaya; Yogyakarta; Malang; Madiun; Cirebon, dan daerah-daerah lainnya.
Saat cita-citanya terwujud satu-persatu, Kartini wafat empat hari setelah melahirkan putranya, Soesalit Djojoadhiningrat pada yang lahir pada 13 September 1904. Ia berpulang pada tanggal 17 September 1904 pada usia 25 tahun dan dikebumikan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
BACA JUGA:Pemkab Ogan Ilir Bahas Menjelang Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025
Setelah wafat, Mr JH Abendanon sahabat Kartini yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia-Belanda, menghimpun surat-surat tulisan Kartini yang dikirim kepada teman-temannya di Eropa. Kumpulan surat tersebut kemudian diterbitkan sebagai buku berjudul Door Duisternis tot Licht, yang artinya "Dari Kegelapan Menuju Terang."
RA Kartini baru dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Pemerintah RI pada tanggal 12 Mei 1964. Gelar tersebut berdasar pada Surat Keputusan Presiden RI Nomor 108 Tahun 1964. Oleh sebab itu, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Besar Nasional-Hari Kartini. (detik.com/penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detik.com)