Demi Bantu Ortu, Habibi Rela Jadi Kernet Delman
Habibi bersama delman di akhir pekan. Foto: Kompas.com--
Di tengah keterbatasan itu, Habibi menyimpan mimpi sederhana. Ia ingin menjadi pemain sepak bola. “Saya cita-citanya ingin menjadi pemain sepak bola. Sebelumnya udah pernah latihan. Cuma karena terkendala biaya jadi enggak sering, jarang-jarang ya,” katanya.
BACA JUGA:Wabup Ogan Ilir Tinjauan Dapur MBG dan Sekolah Penerima MBG Di Tanjung Batu
Meski terancam putus sekolah, Habibi mengatakan bahwa dirinya ingin tetap bersekolah meski keadaan memaksanya sering absen. “Saya mau untuk tetap lanjut sekolah. Cuma karena memang kondisinya saat ini harus jaga adek jadi libur. Saya ingin membahagiakan orang tua, terus bahagiain adek,” ucapnya lirih.
Sementara itu, ayah Habibi, Asep Rusliadi (38), mengaku hanya bekerja serabutan. Upahnya tak menentu, tergantung panggilan kerja. “Kadang paling kecil itu Rp100 ribu, paling besarnya Rp120 ribu. Tapi kalau kerja serabutan kan kalau lagi dipanggil doang, kalau misalnya lagi enggak dipanggil, udah enggak kerja,” ujar Asep.
Ia kerap bekerja sebagai buruh bangunan. Namun, pekerjaan itu tidak berlangsung setiap hari. Dalam sebulan, bisa saja ia hanya bekerja dua pekan lalu menganggur pada pekan berikutnya. Istrinya pun bekerja serabutan, kadang menjadi buruh cuci dan gosok, kadang berjualan sayur keliling berupa kangkung dan genjer yang dipetik dari sawah, dijual Rp 5.000–10.000 untuk tiga ikat.
BACA JUGA:Bupati Ogan Ilir Tinjau Pembangunan Sekolah Rakyat, Ini Lokasinya ?
“Nyari di sawah-sawah kan ada ya kangkung-kangkung, genjer-genjer gitu, dipetikin sama dia gitu buat biaya makan sehari-hari,” kata Asep.
Asep mengaku sedih melihat anak sulungnya harus bekerja pada usia belia.
“Sebenarnya saya sedih kalau anak saya juga harus kerja jadi kernet delman. Tapi di sisi lainnya saya juga enggak bisa ngasih uang jajan dia. Makanya dia kan sampai narik kuda mungkin buat biaya sekolah dia jajan sama buat jajan di rumah,” tuturnya.
Ia menyadari, di usia Habibi saat ini, seharusnya anaknya fokus belajar. Namun, kondisi ekonomi memaksa Habibi bekerja mencari nafkah.
BACA JUGA:Viral, Wanita Remaja Putus Sekolah dan Terlantar, Polsek Tanjung Raja Langsung Cek Kelapangan
“Tadi awalnya sedih juga. Maksudnya anak sekecil dia tuh seharusnya enggak usah bekerja gitu, fokus sekolah. Tapi bagaimana emang keadaannya begini, bingung saya juga,” katanya.
Seragam sekolah Habibi yang kusam dan sobek kerap membuatnya terenyuh. Asep bahkan sempat merasa gagal karena tak bisa memenuhi kebutuhan sekolah anaknya.
“Kadang saya suka sedih juga yang lain bajunya pada masih cerah-cerah dia doang yang udah kusam gitu. Kadang ada sobek. Dalam hati menangis juga sih ya enggak bisa memenuhi kebutuhan anak gitu,” ujar Asep.
Asep mengatakan saat ini dirinya hanya bisa pasrah pada keadaan. “Rezeki udah ada yang ngatur. Sebab kalau kita pikirin aja ujung-ujungnya kitanya juga yang tertekan batin jadinya,” ucapnya.
Sumber:


