Peter Layardi Tegaskan PB PTMSI Organisasi Sah Tenis Meja di Indonesia

Peter Layardi Tegaskan PB PTMSI Organisasi Sah Tenis Meja di Indonesia

Peter Layardi Lay (kemeja biru dongker tengah) bersama atlet tenis meja. Foto: Istimewa--

JAKARTA, oganilir.co - Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI) Peter Layardi Lay angkat bicara terhadap pernyataan Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari yang mengatakan bahwa Indonesia Pingpong League (IPL) organisasi resmi tenis meja di Indonesia.

"Apa yang dikatakan Ketua KOI (Raja Sapta Oktohari) menyatakan IPL satu-satunya organisasi tenis meja diakui pemerintah, salah besar. PB PTMSI berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) telah menyatakan satu-satunya organisasi sah tenis meja di Tanah Air," kata Ketua Umum PB PTMSI Peter Layardi Lay kepada oganilir.co, Rabu 9 Juli 2025 malam. 

Jika ada organisasi lain tenis meja selain PB PTMSI, lanjut Peter, justru itu yang tidak sah. "Negara kita kan negara hukum. Mahkamah Agung telah  mengeluarkan putusan terhadap organisasi tenis meja dan mengakui PB PTMSI sebagai satu-satunya organisasi tenis meja di Indonesia. Ini hukum lo yang bicara, lembaga peradilan tertinggi di Indonesia," ujarnya. 

BACA JUGA:Liga Tenis Meja Silatama PB PTMSI Divisi 2 Digelar, 10 PTM Bersaing

Peter menepis anggapan adanya diskriminasi atlet tenis meja yang mengikuti kejuaraan atau turnamen tenis meja yang digelar pemerintah atau PB PTMSI. Cabor tenis meja dipertandingkan di PON XXI Aceh-Sumut 2024. Seluruh atlet tenis meja yang  lolos mewawakili provinsi bisa turun dan tampil di ajang PON.

"Tidak ada diskriminasi. Sepanjang atlet itu lolos meewakili provinsi, PB PTMSI tidak ada melakukan tindakan diskrimiasi. Cabor tenis meja sukses dilaksanakan di PON Aceh-Sumut," imbuhnya. 

Dia menyesalkan pihak-pihak yang ingin merecoki PB PTMSI sebagai satu-satunya organisasi resmi tenis meja di Indonesia. Para pihak tersebut adalah orang-orang yang kalah di forum Munas PB PTMSI. Beberapa kali mengusung calon ketua, selalu kalah. 

"Pesan saya, bertobatlah dan kembali ke jalan yang benar. Jangan jual-jual nama atlet didiskriminasikan," pungkasnya. 

BACA JUGA:Tenis Meja Porprov Korpri Sumsel 2025 - Avicena Tantang Deddy di Final

Bagi PB PTMSI, tambah Peter, dengan beralihnya pengakuan ITTF (International Table Tennis Federation) kepada IPL yang  hanya  merupakan event organizer liga tidak membawa pengaruh apa pun kepada organisasi tenis meja. Hanya diubah lawan saja yang pada akhirnya terus memelihara dualisme untuk jangka waktu yang lebih lama lagi. 

"PB PTMSI dari dulu urus tenis meja dalam negeri. Sekarang luar negerinya dialihkan ke IPL. Jadi bukan menyelesaikan persoalan tapi tetap memelihara persoalan," tukasnya.

 

Sumber: