Lanjut D, biasanya mereka saling undang dan saling tantang untuk tawuran melalui media sosial (medsos) Instagram.
Salah satunya pada akun #gamaalbes.
“Lalu kami ngumpul di warung belakang SMK di Plaju,” katanya.
“Nunggu instruksi, baru konvoi dan mencari siswa yang jadi sasaran aksi tawuran,” ungkap D.
D mengaku terpaksa putus sekolah lantaran terkena sanksi tegas pihak sekolahnya kala itu.
Warga sekitar simpang Palem, Yayan (33) mengaku sudah resah dengan anak-anak muda yang datang dan kumpul-kumpul di kawasan tempat tinggal mereka.
“Biasanya yang paling ramai itu Sabtu malam hingga Minggu dini hari,” jelasnya.
“Kalau mereka sudah berkumpul, kami pasti waspada. Karena mereka juga membawa berbagai macam senjata, tajam dan tumpul,” ungkapnya.
Kapolsek Sukarami Kompol Dwi Satya Arian SH SIK, mengatakan pelaku tawuran yang diamankan ini, pelajar dari luar wilayah Sukarami dan AAL.
“Kami secara rutin mendatangi sekolah-sekolah, mengingatkan agar tidak terlibat aksi tawuran,” jelasnya.
“Kami imbau juga kepada orang tua untuk selalu mengawasi aktivitas anak-anak mereka di luar rumah,” tegasnya. (kms)