Peningkatan jumlah warga Selandia Baru yang meninggalkan negara mereka sebagian besar disebabkan oleh alasan ekonomi.
BACA JUGA:Indonesia Kepung Semifinal Australia Open 2025, 1 Tiket Final dari Ganda Putra
"Faktor yang menjelaskan kepergian tersebut adalah lemahnya pasar tenaga kerja. Tingkat pengangguran 5,3% (tertinggi dalam hampir satu dekade) dan pengurangan jumlah pekerjaan di sektor publik," jelas sosiolog Paul Spoonley kepada BBC Mundo.
Perekonomian yang melambat, pertumbuhan PDB sekitar 1% pada tahun 2025, menurut perkiraan resmi diperparah oleh kemerosotan daya beli, upah yang tumbuh lebih lambat daripada harga-harga barang kebutuhan pokok dan perumahan.
Dengan demikian, warga Selandia Baru semakin tergoda oleh "upah yang lebih baik di negara lain, perekrutan aktif oleh sektor dan perusahaan tertentu yang menawarkan berbagai insentif seperti biaya relokasi yang ditanggung," papar Spoonley.
BACA JUGA:Pendekar Bulutangkis Indonesia Kepung Final Australian Open 2025, Peluang Bawa Pulang 4 Gelar
"Faktor lain adalah kekuatan pasar tenaga kerja di negara-negara yang lebih besar. Mereka punya lebih banyak pilihan dalam hal sektor pekerjaan dan kemungkinan untuk berkembang," tambahnya.
Mengapa warga Selandia Baru memilih Australia?
Australia menawarkan kondisi yang lebih menarik bagi pencari kerja. Pasar tenaga kerja di sana dinamis, tingkat pengangguran yang lebih rendah, dan upah rata-rata yang jauh lebih tinggi.
Ditambah lagi dengan kondisi kerja yang lebih baik, seperti pembayaran tambahan untuk lembur, akhir pekan, dan hari libur yang tidak dijamin oleh hukum di Selandia Baru.
Ambil contoh sektor kesehatan. Gaji rata-rata seorang perawat di Australia sekitar A$85.000 hingga A$90.000 per tahun (Rp1,01 miliar hingga Rp1,07 miliar), menurut data platform Seek.
BACA JUGA:WNI Gabung Tentara Asing tak Langsung Hilang WNI, ini Kata Yusril
Pada tahun lalu saja lebih dari 10.000 perawat Selandia Baru mendaftar untuk bekerja di Australia.
Hal ini juga terjadi di sektor keamanan. Sebanyak 212 polisi Selandia Baru meninggalkan negara itu antara Januari 2023 dan April 2025, sebagaimana dikonfirmasi oleh kepolisian Selandia Baru.
Para polisi itu menerima tawaran dari lembaga-lembaga Australia, yang dalam beberapa kasus menawarkan gaji lebih dari US$75.000 per bulan (Rp880 juta), ditambah perumahan gratis atau subsidi.
Pertambangan dan konstruksi juga termasuk sektor-sektor yang menarik tenaga kerja terampil.
Australian kian menarik karena ekonominya tumbuh lebih dari 2 persen tahun lalu dan terus-menerus membutuhkan tenaga kerja terampil.