BEKASI, oganilir.co - Kisah Habibi, anak berusia 12 tahun yang menjadi kernet delman hampir sama dengan lirik lagu Iwan Fals "Si Budi Kecil" kuyup menggigil berjualan koran.
Habibi yang baru berusia 12 tahun seharusnya menghabiskan sore bermain bersama teman sebaya atau berlatih mengejar cita-citanya. Namun, bocah yang tinggal di Perumahan Citra Garden Permai, Desa Sriamur, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, itu justru akrab dengan peluh, kuda, dan roda delman.
Habibi adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia tinggal bersama ayah dan ibunya yang bekerja serabutan tanpa penghasilan tetap, seorang nenek yang menderita stroke, serta bibi dengan keterbelakangan mental.
BACA JUGA:Bupati Ogan Ilir Dampingi Gubernur Sumsel Tinjau Progres Pembangunan Sekolah Rakyat
Di rumah kontrakan sederhana yang disewa Rp600 ribu per bulan itulah ia tumbuh, belajar memahami hidup lebih cepat dari anak seusianya. Sehari-hari, Habibi berjalan kaki sekitar 1,2 kilometer menuju sekolahnya di Desa Srimukti. Perjalanan itu ditempuh lebih dari 30 menit.
Habibi masuk sekolah siang, dari pukul 12.00 hingga 17.00 WIB, tetapi tidak selalu bisa hadir. Dalam sepekan, Habibi hanya bersekolah sekitar tiga hari karena harus menjaga dua adiknya ketika orang tuanya bekerja.
“Kesehariannya itu jagain adik kalau enggak sekolah. Terus bersih-bersih rumah, ngepel, nyapu. Biasanya saya jadi kernet delman setiap hari Sabtu dan Minggu,” kata Habibi seperti dilansir Kompas.com.
BACA JUGA:Audiensi ADKASI dengan Menteri PPMI, Ketua DPRD Luwu Utara Usul Sekolah Vokasi Migran
Sudah enam bulan terakhir, ia bekerja sebagai kernet delman. Pekerjaannya dimulai selepas Ashar hingga pukul 18.00 WIB di wilayah Darmawangsa, Tambun Utara. Selain itu, ia juga memberi makan rumput, memandikan kuda, dan membantu mengurus delman.
“Sebenarnya ada rasa takutnya, sering ditendang sama kudanya juga, tapi udah biasa gitu,” katanya dengan mata berbinar.
Dari pekerjaan itu, Habibi memperoleh upah Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per hari. Sebagian besar uangnya diserahkan kepada ibu untuk kebutuhan rumah tangga, sementara sekitar Rp5.000 ia sisihkan untuk keperluan sekolah.
“Biasanya uang yang saya dapat dari kernet delman disimpan untuk dikasih ke ibu. Kalau untuk sekolah paling sekitar 5.000,” ucapnya.
Habibi mengaku harus berjalan kaki seorang diri ke sekolah. Keterbatasan ekonomi yang ia miliki tidak menjadikan dirinya patah semangat. “Saya sebenarnya senang belajar. Walaupun harus jalan kaki sendiri ke sekolah. Soalnya di sini enggak ada teman,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan itu, Habibi menyimpan mimpi sederhana. Ia ingin menjadi pemain sepak bola. “Saya cita-citanya ingin menjadi pemain sepak bola. Sebelumnya udah pernah latihan. Cuma karena terkendala biaya jadi enggak sering, jarang-jarang ya,” katanya.