Masjid Tertua di Sumbar ini Atapnya dari Ijuk

Rabu 04-03-2026,06:32 WIB
Reporter : Dendi Romi
Editor : Dendi Romi

oganilir.co - Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar) punya masjid tertua di provinsi tersebut. Namanya Masjid Tuo Kayu Jao. Atap kayu masjid ini terbilang unik karena menggunakan ijuk.

Masjid Tuo Kayu Jao merupakan masjid tertua di Sumatera Barat menurut Jejaring Desa Wisata, Kementerian Pariwisata. Masjid ini dibangun pada 1567 itu masih kokoh hingga saat ini.

Masjid ini terletak di dataran tinggi yaitu sekitar 1.152 meter di atas permukaan laut. Di sekelilingnya terdapat sungai kecil yang airnya sangat bersih.

Bangunan ini dibangun oleh Angku Masyhur yang merupakan imam masjid dengan suara merdu dan Angku Labai yang juga dikenal memiliki suara merdu sehingga ketika azan, orang yang mendengar ringan hati datang ke masjid.

BACA JUGA:Pemkab Muba Gelar Ngabuburit di Masjid Kursi Patah, Bupati-Wabup Pastikan Hadir

Saat meninggal, Angku Masyhur dimakamkan di mihrab masjid, sementara Angku Labai dimakamkan di Jirek atau langgar yaitu lokasi di mana ia biasa salat di luar masjid.

Bagian dinding, plafon, lantai, dan seluruh tiang bangunan masjid terbuat dari kayu. Beberapa ada yang memakai kayu jao, ada juga yang memakai kayu banio dan kayu medang.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, atap masjid ini bertopang tiga tingkat yang semuanya terbuat dari ijuk. Di antara masing-masing atap, ada suatu pembatas dengan hiasan ukiran terawang dengan motif geometeris.

Pada masjid tersebut, ada 30 tiang dengan tiang utama setinggi 15 meter yang berada di tengah-tengah bangunan. Sementara itu, pintu masuk masjid berada di tengah-tengah bangunan selebar satu meter yang dihubungkan dengan tangga dari plesteran semen dengan halaman masjid.

BACA JUGA:Isra Mi’raj Perjalanan Spiritual Rasulullah, di Masjid Taqwa Muara Kuang Ogan Illr

Jendela berjumlah 13 buah masing-masing memiliki lebar 90 Cm, dengan tempat wudhu berada di samping kiri bangunan masjid yang airnya berasal dari sumber mata air. Di samping masjid juga terdapat bedug.

Menurut artikel jurnal berjudul Development of The Tuo Kayu Jao Mosque As A Cultural Heritage Tourism Attraction in Solok Regency karya Nur Syamsi Ariyani dan Rahmad Ramadan, masjid yang memiliki arsitektur campuran Islam dengan Minangkabau ini dibangun tanpa paku. Namun, seiring berjalannya waktu, masjid ini direstorasi dengan menambahkan paku tanpa mengubah bentuk aslinya.

Masjid ini termasuk dalam bangunan cagar budaya sejak 2011. Ini tertuang dalam SK Nomor PM.86/PW.007/MKP/2011. (detik.com/dri)

 

Kategori :