Para pendukung pemerintah Iran menilai penunjukan Mojtaba sebagai bentuk perlawanan terhadap musuh Iran.
“Saya sangat senang dia menjadi pemimpin kami. Ini seperti tamparan bagi musuh yang mengira sistem akan runtuh setelah ayahnya terbunuh,” kata Zahra Mirbagheri (21), mahasiswa di Teheran.
Seorang pebisnis bernama Babak (34) dari kota Arak mengatakan kekuatan militer Iran masih sangat besar. “Pasukan Garda Revolusi dan sistem masih sangat kuat. Mereka memiliki puluhan ribu pasukan siap bertempur,” ujarnya.
BACA JUGA:Rudal Dihantam NATO, Menlu Iran Hubungi Menlu Turki
Selat Hormuz tertutup, harga minyak melonjak
Di tengah konflik tersebut, jalur energi global bagaimanapun ikut terdampak. Perang secara efektif membuat Selat Hormuz tertutup, yakni jalur laut strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Akibatnya, kapal tanker tidak dapat berlayar selama lebih dari sepekan dan sejumlah produsen energi terpaksa menghentikan produksi karena kapasitas penyimpanan penuh.
Harga minyak mentah Brent bahkan sempat melonjak hingga 29 persen dalam satu sesi perdagangan sebelum akhirnya ditutup naik sekitar 7 persen atau level tertinggi sejak 2022. Kenaikan harga energi ini juga menjadi isu politik penting di Amerika Serikat menjelang pemilu paruh waktu pada November.
Sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan 67 persen warga Amerika memperkirakan harga bahan bakar akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang, sementara hanya 29 persen yang menyetujui perang tersebut.
BACA JUGA:AS Rugi Besar, Radar Senilai Rp17 Triliun di Qatar Hancur oleh Drone Murah Iran
Setelah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Trump mengatakan Amerika Serikat berencana melonggarkan sanksi terkait minyak terhadap “beberapa negara” untuk meredakan kekurangan pasokan global. (Kompas.com/dri)