BANDUNG, oganilir.co - Merayakan Hari Raya Idulfitri di kampung halaman selalu menjadi impian umat Muslim yang merantau di kota besar atau luar negeri. Umat Muslim, mulai dari kalangan menengah ke bawah hingga kaum bangsawan selalu ingin merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung halaman.
Deru mesin kendaraan bersahutan di sepanjang jalan. Di tengah riuhnya arus mudik, para pengendara melaju dengan satu tujuan yang sama, pulang dan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.
Di antara laju kendaraan yang tak henti, ada langkah kaki yang perlahan menyusuri kerasnya aspal. Sepasang sepatu boots menapak jarak demi jarak, digerakkan oleh semangat yang tak padam meski tubuh mulai kelelahan.
Langkah itu sesekali terhenti ketika napas terasa berat dan tenaga menuntut jeda. Terlebih perjalanan panjang tersebut dijalani dalam kondisi berpuasa di bulan Ramadan. Rasa lapar dan haus menjadi teman setia di sepanjang jalan.
Kebingungan kerap muncul setiap kali waktu berbuka tiba, tentang bagaimana mengisi tenaga agar perjalanan bisa dilanjutkan. Bahkan, hanya dengan seteguk air putih, tubuhnya sudah cukup kembali kuat untuk melangkah.
Dalam perjalanan, ia sesekali bertemu orang-orang baik yang memberinya tumpangan. Namun, bantuan itu tidak selalu mengantarkannya hingga tujuan. Ia tetap harus turun di pinggir jalan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Sosok itu adalah Asep Kumala Seta (31). Sehari-hari, ia berjualan cilok berkeliling kampung di kawasan Cibaduyut.
Lebaran tahun ini menjadi berbeda. Keterbatasan biaya membuatnya tak mampu membeli tiket untuk pulang kampung. Namun kerinduan pada sang ibu mendorongnya tetap berangkat menuju kampung halaman di Kabupaten Ciamis, dengan cara berjalan kaki dan menumpang kendaraan seadanya.
BACA JUGA:Pergerakan Mudik Lebaran 2026 di Jalan Tol Trans Sumatera Mulai Terlihat
"Saya tadi pergi jalan kaki dari Cibaduyut sekitar jam 12 siang, terus naik bus Damri dari Leuwi Panjang sampai Cibiru. Setelah itu uang saya pas-pasan, saya langsung naik truk sampai Rancaekek, dan dilanjut lagi truk lain sampai Nagreg," ujar Asep seperti dilansir detik.com, Selasa (17/3/2026) malam.
Perjalanan tak selalu berjalan sesuai rencana. Ia sempat mendapatkan tumpangan truk menuju arah Garut, namun kendaraan tersebut justru berbelok ke arah Kadungora. Tanpa pilihan lain, ia turun dan kembali melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga tiba di Cikaledong.
"Iya saya kaget. Tadi truknya ternyata ke Kadungora, eh saya langsung turun aja. Jadi aja jalan kaki lagi, sampai tadi pas di Cikaledong saya istirahat we cape," katanya.
Dengan raut lelah, Asep beristirahat di depan sebuah warung. Perutnya kosong sejak berbuka hanya dengan air putih.