Harga Emas Terus Melonjak, ini Harganya

Harga Emas Terus Melonjak, ini Harganya

Ilustrasi.--

Di dalam negeri, tingginya harga emas memicu fenomena fear of missing out (FOMO) di kalangan masyarakat. Perencana Keuangan Mike Rini menilai kondisi ini perlu disikapi dengan hati-hati, terutama bagi investor ritel yang membeli emas tanpa perencanaan keuangan yang matang.

Mike menjelaskan membeli emas saat harga berada di level tertinggi bukanlah pilihan ideal jika tujuan utamanya adalah mengejar keuntungan jangka pendek dari selisih harga jual dan beli. Ia menegaskan emas bersifat fluktuatif dan berpotensi mengalami koreksi setelah menembus level tertinggi. Meski begitu, emas tetap relevan sebagai instrumen diversifikasi dan perlindungan nilai dalam jangka menengah dan panjang.

BACA JUGA:Cara Merawat Perhiasan Perak agar Tetap Kinclong

“Jadi, membeli emas saat ini masih bisa menguntungkan jika, ini hanya jika ya, jika tujuannya sebagai bagian dari strategi alokasi aset yang seimbang,” kata Mike.

Mike mencontohkan pembelian emas masih dapat dianggap logis apabila ditujukan untuk tujuan jangka panjang seperti dana pendidikan anak atau perlindungan nilai terhadap inflasi. Dalam kondisi tersebut, fluktuasi harga jangka pendek tidak menjadi risiko utama karena horizon investasi yang panjang. Sebaliknya, membeli emas dalam jumlah besar untuk tujuan spekulasi jangka pendek dinilai berisiko tinggi, terutama jika dilakukan saat harga sudah berada di puncak.

Mike juga menyoroti risiko utama bagi masyarakat yang baru masuk ke pasar emas di tengah harga tinggi, yakni timing risk. Upaya untuk menebak waktu terbaik masuk dan keluar pasar kerap berujung pada kerugian, terutama ketika keputusan investasi didorong oleh FOMO tanpa mempertimbangkan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing individu.

BACA JUGA:6 Tips Simple Mencuci Emas Perhiasan di Rumah, agar Investasi Tetap Aman

“Jadi, jangan overconfidence bahwa ketika melihat statistik harganya naik terus, kita tunggu-tunggu sampai tinggi, masih ragu-ragu, begitu sudah ketinggian, mulai panik beli, takut ketinggalan, baru yakinnya sekarang. Itu timing market, mencoba untuk masuk ke market pada harga yang paling tepat,” ungkap Mike.

Terkait waktu pembelian, Andy menekankan prinsip dasar investasi bahwa waktu terbaik untuk memulai investasi adalah secepat mungkin.

“Salah satu prinsip berinvestasi adalah waktu yang tepat untuk mulai berinvestasi adalah kemarin. Apabila kemarin kita belum berinvestasi maka waktu yang tepat memulainya adalah hari ini,” tutur Andy.

Andy menyarankan dalam kondisi FOMO seperti saat ini, masyarakat harus menyesuaikan strategi pembelian dengan kemampuan finansial. Pembelian langsung dalam jumlah besar berpotensi memberikan keuntungan lebih besar saat harga naik, namun juga membawa risiko kerugian yang lebih besar. Sementara itu, pembelian bertahap, cicilan emas melalui bank syariah, marketplace, atau aplikasi dinilai lebih terjangkau dan dapat mengurangi risiko volatilitas harga. (kumparan.com/dri)

 

Sumber: