Perdana, Iran Gunakan Rudal Haj Qasem Serang Pangkalan Militer AS-Israel

Perdana, Iran Gunakan Rudal Haj Qasem Serang Pangkalan Militer AS-Israel

Rudal Iran melintasi langit Israel. Foto: Antara--

TEHERAN, oganilir.co - Satu per satu jenis rudal Iran digunakan dalam melakukan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel. Untuk pertama kalinya Iran menggunakan rudal Haj Qasem dalam konflik yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat-Israel, kantor berita Fars melaporkan pada Selasa (17/3), mengutip Garda Revolusi Iran (IRGC).

IRGC menyatakan rudal tersebut digunakan dalam rangkaian operasi militer terbaru, termasuk fase ke-59 operasi "True Promise 4" yang menargetkan pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, serta Kurdistan Irak.

Garda Revolusi juga melaporkan serangan terhadap sejumlah kota di Israel, termasuk Tel Aviv, Yerusalem Barat, dan Beit Shemesh.

BACA JUGA:Serangan Rudal-Drone Iran Makin Akurat, Pengamat Duga IRGC Gunakan Teknologi China

Menurut laporan Fars, Haj Qasem termasuk dalam rudal yang diluncurkan pada serangan tersebut, yang menandai penggunaan perdananya dalam selama konflik saat ini.

Rudal tersebut yang digunakan dalam konflik dengan Israel pada Juni 2025, digambarkan sebagai rudal balistik taktis berbahan bakar padat.

Diperkenalkan pada 2020, rudal itu diklaim memiliki jangkauan sekitar 1.400 kilometer.

Iran terus melancarkan serangan terhadap Israel dan target-target militer AS di Timur Tengah sebagai balasan atas operasi militer gabungan pada 28 Februari.

BACA JUGA:IRGC Luncurkan Rudal Sejjil, Si Burung Ababil Hancurkan Pasukan Gajah

Operasi militer tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan lebih dari 150 murid sekolah perempuan di Iran selatan.

Iran melaporkan lebih dari 1.200 orang tewas dan lebih dari 17.000 lainnya terluka.

AS dan Israel awalnya mengeklaim "serangan pendahuluan" itu diperlukan untuk melawan ancaman dari program nuklir Iran, tetapi kemudian mereka mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk mengubah rezim yang berkuasa di Iran. (antaranews.com/dri)

Sumber: