Uang Pas-pasan, Pedagang Cilok Mudik Berjalan Kaki dan Naik Truk
Asep Kumala Seta berjalan kaki mudik sambil menumpang truk ke kampung halamannya. Foto: detik.com--
Dengan raut lelah, Asep beristirahat di depan sebuah warung. Perutnya kosong sejak berbuka hanya dengan air putih.
BACA JUGA:Pemudik Riau Kritis Karena Terjebak Macet 14 Jam di Jalintim Palembang-Jambi
"Alhamdulillah tadi buka sama air putih aja. Sekarang baru jam 9-an masih di sini. Mungkin kalau jalan kaki ya ada lah sekitar 70 km lagi dan kayanya bisa sampai ke rumah sekitar jam 9 pagi," jelasnya.
Ia membawa tas ransel berisi pakaian, sepatu, perlengkapan camping, hingga kompor dari kontrakannya. Bekal Lebaran yang ia terima pun sederhana.
"THR sama si bos cuma dikasih cilok 50 biji sama sirop marjan. Ini juga ciloknya dibawa ada di dalem tas, jadi kalau laper ya saya masak aja," ucapnya.
"Kalau ongkosnya pas mah jarang pakai bus. Mending jalan kaki, sambil megat-megat truk aja," tambahnya.
BACA JUGA:Tradisi Mudik di Maluku Bukan Hanya Pulang Kampung Tetapi Merayakan Kebersamaan
Asep mengaku telah berjualan cilok selama dua tahun terakhir. Pola hidupnya pun berulang: bekerja beberapa bulan di Bandung, lalu pulang ke kampung halaman dengan berjalan kaki.
"Kalau ciloknya habis, setoran itu harus Rp700 ribu. Kalau kejual segitu mah batinya alhamdulillah besar dan bisa dipakai keperluan sehari-hari. Tapi ini sudah satu bulan lebih penjualan merosot, sehari teh cuma dapet Rp100 ribu, setorannya Rp70 ribu, saya dapet Rp30 ribu," ungkapnya.
Ke depan, ia berencana kembali ke kampung halaman dan mencoba peruntungan sebagai nelayan, pekerjaan yang pernah ia jalani di beberapa daerah.
"Sebelum jualan cilok, saya sempet bekerja jadi buruh serabutan, dan sempat menjadi nelayan di Indramayu, terus di Jakarta juga pernah. Kayanya ini juga mau melaut lagi lah, tapi kalau engga ada kerjaan, ya balik lagi aja jualan cilok," bebernya.
BACA JUGA:Tinjau Arus Mudik di Pelabuhan Tanjung Kalian, Gubernur Babel Minta Maaf
Selama perjalanan, ia juga tak selalu mendapatkan perlakuan baik. Karena itu, ia memilih beristirahat di tempat sepi dengan perlengkapan seadanya.
"Ini kan saya bawa flysheet buat kemping. Jadi tidur mah dimana aja, terus pakai ini," ucapnya.
Di tengah keterbatasan itu, kepedulian warga akhirnya datang. Beberapa orang membantu meringankan beban Asep dan menghentikan sebuah bus untuknya.
Sumber:


