Air Danau Toba Menyusut, Budidaya Ikan KJA Terancam
Keramba jaring apung di Danau Toba. Foto: Antara--
oganilir.co - Budidaya ikan di Danau Toba terancam. Ini karena terjadi penurunan muka air Danau Toba kembali yang menjadi sinyal peringatan bagi sektor perikanan budidaya, khususnya keramba jaring apung (KJA) di perairan itu.
KJA di Danau Toba selalu menjadi perhatian karena jumlahnya ribuan bahkan pernah mencapai puluhan ribu. Keramba-keramba tersebut menjadi sumber utama penghidupan para nelayan di sekitar Danau Toba.
Penurunan muka air danau ini tidak hanya berdampak negatif pada sektor perikanan, tetapi juga pada sektor pertanian dan salah satu industri pembangkit listrik tenaga air terbesar di Indonesia yang dikelola PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM).
Data satelit altimetri menunjukkan bahwa sejak Juni 2025 hingga Maret 2026, muka air danau terus menurun hingga mencapai sekitar 1,6 meter. Jika musim kemarau terus berlanjut, muka air danau berpotensi terus turun hingga 2 meter sehingga mengancam berbagai kegiatan di sekitar Danau Toba.
BACA JUGA:Idul Fitri 1447 H, Polres Ogan Ilir Perketat Pengamanan Wisata Danau Biru
Kondisi tersebut bukan sekadar fenomena hidrologi biasa. BMKG memprediksi kemungkinan terjadinya El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif secara bersamaan pada 2026. Kombinasi ini dikenal dapat memicu musim kering berkepanjangan di Indonesia, termasuk di kawasan Danau Toba, yang pada akhirnya mempercepat penyusutan volume air danau dan dapat menyebabkan kematian massal ikan di KJA.
Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa penurunan muka air danau kerap berhubungan dengan kejadian kematian massal ikan di KJA. Tahun 2016 menjadi musibah yang paling menyedihkan: saat muka air surut hingga sekitar 2 meter, ribuan ton ikan di KJA mati, menimbulkan kerugian nelayan KJA hingga puluhan miliar rupiah. Kejadian serupa, meski dalam skala lebih kecil, juga terjadi pada 2018, 2020, dan 2023 ketika muka air relatif rendah.
Penting untuk dipahami bahwa penurunan muka air bukanlah penyebab langsung kematian ikan. Ancaman sebenarnya muncul ketika kondisi tersebut beriringan dengan faktor cuaca ekstrem, terutama angin kencang. Dalam situasi ini, terjadi percampuran massa air dan pengadukan sedimen dari dasar perairan—wilayah yang selama ini menjadi tempat akumulasi limbah organik dari aktivitas budidaya dan domestik.
BACA JUGA:Wisata Baru di Ogan Ilir! Danau Biru Telah Dibuka untuk Umum
Peristiwa di Pangururan pada tahun 2025 menjadi contoh nyata. Meski penurunan muka air tidak terlalu signifikan, kondisi perairan yang relatif dangkal ditambah angin kencang memicu percampuran vertikal. Sedimen halus terangkat ke permukaan dan dapat menyumbat insang ikan. Pada saat yang sama, air dari lapisan bawah yang miskin oksigen naik ke atas, menyebabkan penurunan drastis kadar oksigen terlarut sehingga ikan di KJA mati.
Masalah tidak berhenti di situ. Di dasar danau, limbah organik seperti sisa pakan, kotoran ikan, dan limbah rumah tangga terus menumpuk. Dalam kondisi normal, bahan ini diuraikan oleh bakteri dengan bantuan oksigen. Namun, ketika oksigen habis, proses penguraian berlangsung secara anaerobik dan menghasilkan gas beracun seperti hidrogen sulfida dan metana.
Hidrogen sulfida dapat merusak sistem pernapasan ikan, sementara metana turut menurunkan kualitas air. Kombinasi antara rendahnya oksigen, tingginya kandungan gas beracun, dan meningkatnya kekeruhan air menjadi penyebab kematian massal ikan di KJA.
BACA JUGA:Polsek Indralaya Patroli Objek Wisata Danau Biru, Operasi Lilin Musi 2025
Melihat laju penurunan muka air yang cukup tajam sejak 2025 dan potensi musim kering yang masih berlanjut, kewaspadaan wajib ditingkatkan. Risiko kematian massal ikan di KJA dan sekitarnya pada 2026 terbuka lebar jika tidak ada langkah mitigasi yang serius.
Sumber:


