oganilir.co - Dunia menunggu sikap China dan Rusia terhadap serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel kepada Iran yang menyebabkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas.
Dilansir BBC, Rusia dan China memiliki hubungan diplomatik, perdagangan, dan militer yang erat dengan Iran. Serangan terbaru AS dan Israel seolah menjadi ujian seberapa jauh kedua negara bersedia memberikan dukungan ke Iran.
Sikap Rusia
Sejauh ini, Moskow telah memberikan pernyataan keras terhadap serangan gabungan AS-Israel ke Iran. Namun, dukungan konkret tetap terbatas.
BACA JUGA:Serangan ke Pangkalan Militer Berlanjut, Iran Klaim 560 Tentara AS Tewas
Sikap itu mencerminkan kemarahan terhadap aksi AS dan Israel sekaligus solidaritas dengan Teheran, sambil berhati-hati agar tidak terseret langsung ke dalam perang.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan 'kekecewaan mendalam' bahwa Washington dan Teheran telah melakukan perundingan, tapi situasi justru 'memburuk menjadi agresi terbuka'.
Dia mengatakan Rusia terus menjalin kontak dengan para petinggi Iran serta negara-negara Teluk yang terdampak perang. Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam AS dan Israel yang disebut melakukan 'agresi tanpa provokasi' terhadap Iran.
BACA JUGA:Pasukan AS di Dubai Jadi Sasaran Iran
Moskow juga menuding praktik pembunuhan politik dan 'perburuan' terhadap para pemimpin negara berdaulat. Pada Ahad (1/3), Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Putin menyebut peristiwa itu sebagai 'pelanggaran terhadap moralitas manusia dan hukum internasional'. Namun, Putin telah menghindari kritik langsung terhadap Presiden AS Donald Trump, bahkan masih menyatakan terima kasih terhadap Washington atas mediasi dengan Ukraina.
Ketika ditanya bagaimana Moskow bisa mempercayai Washington, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan Rusia 'pada dasarnya hanya mempercayai dirinya sendiri' dan akan selalu membela kepentingan nasionalnya. Kepentingan itu pula yang menjelaskan mengapa dukungan Rusia terhadap Iran lebih banyak bersifat retoris.
BACA JUGA:Iran Punya Berbagai Jenis Rudal, ini Spesifikasinya
Padahal, sejak Rusia menginvasi Ukraina, Teheran merupakan salah satu sekutu terdekat Moskow dengan memasok drone dan membantu Rusia mencari cara menghindari rentetan sanksi Barat. Cara para petinggi Iran memerintah juga sejalan dengan visi Kremlin tentang tatanan multipolar, di mana hak negara dianggap lebih penting daripada hak asasi manusia, serta pemerintah memiliki kendali penuh di dalam negeri. Runtuhnya rezim semacam itu akan menjadi pukulan bagi model tersebut.
Meski demikian, Kremlin sudah menunjukkan tanda tidak akan terlalu jauh mempertaruhkan kepentingannya demi sekutunya, baik di Venezuela, Suriah, maupun saat perang 12 hari antara Israel dan Iran pada pertengahan tahun 2025. Rusia masih sibuk di Ukraina dan tampak enggan memberikan lebih dari sekadar dukungan diplomatik dan kerja sama teknis militer kepada Iran.