Dunia Menunggu Sikap China-Rusia Terhadap Iran yang Dikeroyok AS dan Israel

Rabu 04-03-2026,10:05 WIB
Reporter : Dendi Romi
Editor : Dendi Romi

Perjanjian kemitraan strategis Rusia-Iran yang ditandatangani pada 17 Januari 2025 memang tidak sampai menjadi pakta pertahanan bersama. Moskow dan Teheran berjanji untuk berbagi informasi, menggelar latihan gabungan, serta 'menjaga keamanan regional'. Keduanya memang tidak berkomitmen saling membela jika diserang.

BACA JUGA:Bela Iran, Houthi Siap Beraksi di Laut Merah

Meski begitu, ikatan militer dan industri kedua negara itu terus berkembang. Pada Februari, harian Financial Times melaporkan kesepakatan besar antara Rusia dan Iran dalam bidang militer.

Rusia disebut sepakat memasok sistem pertahanan udara portabel Verba senilai USD 500 juta (Rp9,85 triliun) kepada Iran. Iran juga telah menerima pesawat latih Yak-130, helikopter serang Mi-28, dan masih menunggu jet tempur Su-35. Namun, Rusia belum juga mengirim sistem pertahanan udara Verba.

Penggunaan drone Shahed buatan Iran sempat mengubah taktik pasukan Rusia saat menginvasi Ukraina. Namun, tahun lalu Moskow dengan cepat memperluas produksi drone domestik sehingga ketergantungannya pada senjata Iran berkurang.

BACA JUGA:Langit Yerusalem Dihujani Rudal Iran, 7 Warga Terluka

Bagi Moskow, Iran terlalu penting untuk dibiarkan runtuh. Tetapi, tidak cukup penting untuk diperjuangkan. Perhitungan itu bisa saja berubah, namun untuk saat ini intervensi Rusia tampaknya akan tetap terbatas pada retorika.

Sikap China

Pemerintah China juga telah mengecam keras pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei. Secara historis, Beijing memang selalu menentang strategi perubahan rezim yang dijalankan AS di berbagai belahan dunia.

Inti hubungan China dan Iran selama ini adalah kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan. China merupakan mitra dagang terbesar Iran sekaligus pelanggan energi terpentingnya.

BACA JUGA:Khamenei Tewas, Iran Bersumpah Balas Dendam

China telah menjadi penopang utama ekonomi saat Iran bertahun-tahun digempur sanksi berat dari AS. China terus membeli minyak Iran dalam jumlah besar dengan harga diskon melalui jaringan 'ghost fleets' kapal-kapal yang didaftarkan secara palsu untuk menghindari sanksi.

Pada 2025, misalnya, China membeli lebih dari 80 persen minyak yang dikirim Iran. Pendapatan dari penjualan itu membantu Iran menstabilkan ekonominya dan membiayai belanja pertahanan saat negara-negara Barat menutup pintu pasar mereka.

Hubungan kedua negara semakin kokoh berkat perjanjian strategis 25 tahun yang ditandatangani pada 2021. Kesepakatan itu menjanjikan investasi ratusan miliar dolar dari China untuk infrastruktur dan telekomunikasi Iran.

BACA JUGA:Presiden Tegaskan Iran Tidak Sedang Upayakan Nuklir

Pendekatan China terhadap ketegangan Iran-Israel dan Iran-AS merupakan strategi menahan diri yang penuh perhitungan. Dalam perang 12 hari antara Israel dan Iran pada musim panas 2025, Beijing secara konsisten menyerukan 'menahan diri' sambil menyalahkan 'campur tangan eksternal' yang merupakan sindiran jelas terhadap kebijakan AS.

Kategori :