Tiba-tiba Putri berkata. “Tuan, saya dulunya seorang manusia yang dikutuk oleh dewa. Saya akan berubah menjadi apa saja jika saya ditemukan. Karena saya ditemukan oleh tuan, makanya saya berubah menjadi manusia,” kata Putri cantik tadi.
Toba yang terkagum-kagum atas kecantikan Putri, dalam hatinya berpikir. Dia akan menjadikan Putri sebagai istrinya. Keinginan itu pun diutarakan oleh Toba. “Putri, maukah engkau menjadi istriku,” tanya Toba.
Pertanyaan Toba pun dijawab Putri cantik. Dia bersedia menjadi istri Toba dengan satu syarat. Jangan menceritakan asal usulnya yang berasal dari ikan. Permintaan ringan yang menurut Toba itu disanggupi.
Toba dan Putri pun menikah. Mereka menetap di Lembah dan dikaruniai seorang putra yang diberi nama Samosir. Toba dan istrinya hidup bahagia dengan kehadiran Samosir sebagai anak semata wayang.
BACA JUGA:Danau Merung, Destinasi Wisata Baru di Kabupaten Muratara Sumsel
Setiap hari Toba bekerja di ladang. Jika siang, Putri akan menyuruh Samosir putranya mengantarkan nasi dan lauk pauk beserta air minum. Samosir yang masih terbilang anak kecil dimanja oleh ibunya, Putri. Setiap keinginan Samosir selalu dituruti dan dikabulkan. Lama-lama Samosir menjadi manja dan susah jika diperintah.
Samosir yang sedang dalam masa pertumbuhan, nafsu makannya besar. Jika makan, porsi jumbo. Hidangan untuk keluarga bisa dihabiskannya.
Suatu hari, Putri menyuruh Samosir mengantarkan nasi dan lauk pauk untuk Toba yang bekerja di ladang. Samosir yang ogah disuruh untuk mengantarkan nasi sempat menolak karena sifat malasnya. Dengan bujukan sang ibu, Samosir pun akhirnya mau mengantarkan nasi lengkap dengan lauk pauknya kepada ayahnya, Toba.