Dalam perjalanan ke ladang, Toba merasa lapar. Melihat nasi dan lauk pauk yang dibawa, Samosir pun menyantapnya. Samosir hanya menyisakan sedikit nasi dan lauk pauk untuk ayahnya.
BACA JUGA:Pamit Hendak Belajar Kelompok, Pelajar Diduga Tenggalam Di Danau Tanjung Seteko
Tiba di ladang, bekal nasi itu diberikan Samosir kepada ayahnya. Toba yang sudah lapar membuka bekal nasi yang dibawa anaknya. Betapa terkejutnya Toba melihat nasi dan lauk pauk yang dibawa Samosir sudah berkurang dan hampir habis.
“Siapa yang makan nasi ini,” tanya Toba kepada Samosir. Dengan polosnya Samosir mengakui bahwa dia yang memakannya karena lapar dan haus.
Toba marah besar kepada putra semata wayangnya. “Dasar anak berasal dari ikan,” maki Toba.
Samosir pun menangis dan langsung pulang menemui ibunya. Putri yang mendengar cerita putranya langsung sedih karena sumpah yang diucapkan suaminya dilanggar dan sama sekali tidak menyangka suami yang disayanginya melanggar sumpah.
BACA JUGA:Kamu Harus Tahu, 7 Danau di Sumatera Ini Akibat Dampak Letusan Gunung Berapi
Ibu dan anak itu menghilang. Seketika langit menghitam dan turun hujan lebat, tidak berhemti. Dari pijakan kaki Putri dan Samosir keluarlah mata air dalam jumlah besar. Lembah tempat Toba dan keluarganya tenggelam dan menjadi danau.
Di tengah danau itulah muncul sebuah pulau yang diberi nama oleh masyarakat setempat Samosir.