
"Petugas langsung melakukan penyelidikan dan pemeriksaan saksi," jelasnya.
Selanjutnya, kasus ini masuk dalam tahap penyidikan. "Dua tersangka ditahan di Mapolres Lahat," bebernya.
Dedi dan Herman ditetapkan sebagai tersangka Rabu, 9 November 2022 malam usai dilakukan pemeriksaan.
Dijelaskan, hasil penambangan batubara oleh pelaku belum sempat dijual karena masih di TKP.
Hanya saja aktivitas penambangan menggunakan alat berat sudah melanggar UU Minerba.
Utamanya, pasal 158 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 dengan penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun.
Dan denda paling banyak Rp 10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah).
"Aksi penambangan itu ilegal ditambah lagi tak ada izin," jelasnya.
Di bagian lain, kasus tambang ilegal galian C berupa Sirtu (pasir batu) juga diproses unit Pidsus Polres Lahat.
Dugaannya melakukan penambangan diluar IUP dengan tersangka AS.
AS ini salah satu pelaku usaha galian C di kawasan Merapi.
Atas perkara dugaan tindak pidana "Setiap Orang yang melakukan penambangan Tanpa Izin".
Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 03 Tahun 2020.