Vakum 2 Dekade, Festival Layang-Layang di Pakistan Kembali Digelar

Selasa 10-02-2026,09:00 WIB
Reporter : Dendi Romi
Editor : Dendi Romi

oganilir.co - Sempat vakum selama dua dekade, Pemerintah Pakistan akhirnya kembali menggelar Festival Layang-Layang di Pakistan Timur. Sebelumnya, pemerintah Pakistan melarang festival tersebut karena alasan keamanan. 

Kembali digelarnya Festival Layang-Layang membuat langit Kota Lahore di Provinsi Punjab pun kembali semarak dengan layang-layang berwarna cerah, menandai berakhirnya larangan yang diberlakukan selama 19 tahun karena alasan keselamatan. Festival yang berlangsung selama tiga hari pada minggu lalu itu menjadi penanda datangnya musim semi.

Melansir CNA, Selasa (10/2/2026) warga terlihat berada di atap rumah, taman, hingga jalanan kota untuk merayakan Basant, tradisi tahunan yang lama terhenti itu. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sejak hari pertama.

BACA JUGA:Perpustakaan Ogan Ilir Sukses Gelar Festival Literasi , Ini Para Pemenangnya

"Semua orang antusias di seluruh Punjab hingga ketersediaan layang-layang dan talinya pun ludes terjual," kata seorang penerbang layang-layang, Shahzaib.

Ya, Festival Basant ini sebelumnya dilarang Pemerintah Punjab pada 2007 menyusul rentetan kecelakaan fatal. Insiden tersebut dipicu penggunaan tali layang-layang berlapis bubuk kaca serta aksi menembakkan senjata api ke udara saat perayaan berlangsung.

Tali tajam yang dikenal sebagai manjha kerap melukai hingga menewaskan pejalan kaki dan pengendara sepeda motor sehingga memicu pengetatan aturan secara total. Di tahun ini, pemerintah akhirnya mengizinkan kembali penyelenggaraan festival dengan pengawasan ketat.

BACA JUGA:Festival Randik Resmi Dibuka, ini Pesan Bupati Muba

Kebijakan tersebut disambut positif oleh warga Kota Lahore serta ribuan pengunjung dari berbagai wilayah Pakistan yang datang khusus untuk mengikuti perayaan yang telah lama dinantikan. Dampak ekonomi dari kembalinya Basant pun langsung terasa.

Pengrajin layang-layang di sana, Tariq, menjelaskan setelah festival tersebut tak diadakan lagi banyak pengrajin layang-layang yang kehilangan mata pencaharian mereka. Dan kini setelah festival itu digelar kembali, ia menyebut penjualan layang-layang pun kembali meningkat.

"Banyak orang kehilangan bisnis mereka ketika larangan itu diberlakukan. Setelah larangan dicabut, saya menjual 20.000 hingga 25.000 layang-layang," kata Tariq.

Sejumlah kelompok hak asasi manusia dan pegiat budaya sebelumnya juga menilai larangan festival bukan solusi utama. Mereka berpendapat bahwa lemahnya penegakan hukum, bukan tradisi Basant, menjadi penyebab utama tragedi di masa lalu.

BACA JUGA:Festival Pacu Jalur Nasional 2025 Akan Dibuka Wapres Gibran, ini Rangkaian Acaranya

Meski kembali digelar, perayaan kali ini berlangsung di bawah bayang-bayang situasi keamanan nasional. Aparat kepolisian dikerahkan di berbagai titik kota, sementara rumah sakit disiagakan untuk mengantisipasi potensi korban.

Pemerintah Punjab turut memperketat pengawasan penjualan layang-layang, termasuk dengan penggunaan kode QR untuk pelacakan. Bahan berbahaya seperti tali berlapis kaca disita. Para pengendara sepeda motor juga memasang batang pelindung pada kendaraan mereka guna mencegah tali layang-layang melukai pengendara.

Kategori :