Kapal Cepat AS Ditembak Aparat Kuba, 4 Penumpang Tewas
Kapal Patroli Kuba. --
Dia mengatakan bahwa saudaranya adalah merupakan sopir truk dan warga negara Amerika Serikat yang telah tinggal lebih dari 20 tahun di AS, meninggalkan istrinya, ibunya, dua saudara perempuannya, dan seorang putri yang sedang mengandung.
"Tidak ada yang tahu (tentang rencana Michel)," kata Misael tentang aksi saudara laki-lakinya, "Ibu sangat terpukul," seraya menambahkan, "Mereka begitu terobsesi sehingga tidak memikirkan konsekuensinya atas kehidupan mereka sendiri."
BACA JUGA:Dekati Kapal Induk Abraham Lincoln, Jet Tempur Siluman AS Tembak Drone Iran
Dia berharap kematian saudaranya jadi pengorbanan yang bermakna, "Mungkin hal itu mewujudkan Kuba merdeka suatu hari."
Rubio: Insiden yang 'sangat tidak biasa'
Di Washington, para pejabat pemerintah bereaksi dengan hati-hati. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kepada wartawan bahwa Gedung Putih sedang menyelidiki insiden tersebut. Ia berharap insiden itu "tidak seburuk yang kita khawatirkan." Sejauh ini, pemerintah AS "belum memiliki banyak detail."
Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga berkomentar selama kunjungannya ke St. Kitts dan Nevis. Ia mengatakan bahwa berbagai bagian pemerintah AS sedang mengumpulkan dan memverifikasi informasi. Hingga ada bukti yang meyakinkan, ia tidak akan berspekulasi. "Cukuplah dikatakan bahwa sangat tidak biasa melihat baku tembak terjadi di laut lepas," tegas Rubio. Ia menambahkan bahwa hal seperti ini sudah lama tidak terjadi dengan Kuba. Bagaimanapun, pejabat AS tidak terlibat.
BACA JUGA:Sinyal Perang di Depan Mata, Gugus Tempur Kapal Induk AS Menuju Timur Tengah
Kedutaan Besar AS di Havana sedang berupaya menentukan apakah para korban adalah warga negara AS atau penduduk tetap Amerika Serikat. Selain itu terdaftarnya kapal di negara bagian Florida juga masih dalam penyelidikan.
Jaksa Agung Florida, James Uthmeier, mengumumkan penyelidikan bersama dengan otoritas federal. "Pemerintah Kuba tidak dapat dipercaya, dan kami akan melakukan segala daya upaya untuk meminta pertanggungjawaban para komunis ini," kata jaksa yang juga politisi Partai Republik itu.
Kuba terletak hanya sekitar 145 kilometer dari ujung selatan Florida.
Pemerintah Kuba menolak tuduhan tersebut dan menekankan hak untuk membela negara. "Kuba menegaskan kembali komitmennya untuk melindungi perairan teritorialnya, dengan pertahanan nasional sebagai pilar fundamental bagi negara Kuba untuk menjaga kedaulatan dan stabilitasnya di kawasan ini," demikian pernyataan kantor kepresidenan melalui Platform X.
BACA JUGA:Kapal Wisata Disetop Sementara, Minat Wisatawan Berkunjung ke Labuan Bajo Tetap Tinggi
Terjadi setelah AS melonggarkan embargo minyak
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Havana. Di bawah Presiden Donald Trump, Amerika Serikat sekali lagi meningkatkan tekanan pada kepemimpinan komunis.
Sejak Desember, Kuba tidak lagi menerima minyak dari Venezuela, setelah Trump memerintahkan blokade total terhadap kapal tanker minyak yang dikenai sanksi yang membawa kiriman dari negara mitra Amerika Selatan tersebut. Ia juga mengancam akan mengenakan tarif pada negara-negara yang memasok minyak ke Kuba. Akibatnya, Meksiko, pemasok terbesar Kuba, antara lainnya turut menghentikan ekspor minyak.
Blokade tersebut memperburuk krisis energi dan ekonomi yang sudah parah di pulau itu dan menyebabkan kekurangan pasokan akut. Pemerintah Kuba memerintahkan langkah-langkah penghematan energi yang drastis, membatasi kegiatan sekolah dan transportasi umum, serta mengurangi jam kerja.
BACA JUGA:Pelatih Valencia dan 3 Putrinya Jadi Korban Kapal Tenggelam di Labuan Bajo
Sumber:


