Iran Kuat, Trump Isyaratkan Akhiri Perang

Iran Kuat, Trump Isyaratkan Akhiri Perang

Motjaba Khamenei. Foto: Khamenei.IR/AFP--

oganilir.co - Prediksi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan menjatuhkan dan mengalahkan Iran dalam perang, ternyata meleset. Setelah memasuki hari ke-11 berperang melawan Iran, AS dan Israel kewalahan. 

Karena itu, Trump mengisyaratkan perang di Timur Tengah bisa segera berakhir, di tengah munculnya pemimpin baru Iran yang dikenal berhaluan keras, Mojtaba Khamenei.

Pernyataan itu muncul ketika Iran justru menunjukkan sikap perlawanan dengan menggalang dukungan besar terhadap pemimpin barunya, setelah ayah Mojtaba, Ali Khamenei, tewas dalam serangan Israel pada hari pertama perang.

BACA JUGA:Iran Bersedia Gencatan Senjata, ini Syaratnya

Trump pada Senin (9/3/2026) mengatakan, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran tersebut kemungkinan tidak akan berlangsung lama.

“Ini akan selesai cukup cepat,” kata Trump kepada anggota parlemen Partai Republik, dikutip dari Reuters.

Meski demikian, ia menegaskan perang akan terus berlanjut sampai Iran benar-benar “dikalahkan secara total dan menentukan”.

Trump juga menilai pihaknya sudah memenangkan banyak hal dalam konflik tersebut, meski belum mencapai kemenangan yang dianggap cukup. Namun, Trump tidak menjelaskan secara rinci seperti apa definisi kemenangan yang dimaksud oleh pemerintah Amerika Serikat.

BACA JUGA:Houthi Girang Motjaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Pukulan Telak Bagi Musuh

Lonjakan harga minyak jadi perhatian

Yang pasti, konflik AS-Israel dengan Iran tengah membuat harga minyak global melonjak. Pemerintah AS pun disebut tengah menyiapkan sejumlah opsi untuk meredam lonjakan harga minyak tersebut.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Presiden Trump mempertimbangkan melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia serta melepaskan cadangan minyak darurat Amerika Serikat ke pasar.

Langkah tersebut dibahas sebagai bagian dari upaya menstabilkan harga energi yang melonjak setelah lebih dari sepekan serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian serius Gedung Putih karena dikhawatirkan akan membebani bisnis dan konsumen Amerika Serikat, terutama menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang, ketika Partai Republik berharap mempertahankan kendali atas Kongres.

Sumber: