Tuna Daksa Bukan Halangan Bagi Aida Meraih Beasiswa S2 dan S3 LPDP di UGM

Tuna Daksa Bukan Halangan Bagi Aida Meraih Beasiswa S2 dan S3 LPDP di UGM

Ida Mujtahidah. --

Pilihan jurusan Hubungan Internasional sempat membuat sang ayah ragu. Namun Aida meyakinkannya dengan merujuk pada Surat Al-Hujurat ayat 13, yang menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal.

“Saya bilang ke Abah, ini ayatnya HI banget. Ini perintah Allah untuk mengenal bangsa-bangsa. Saya tidak sanggup menafsirkan semua ayat, saya ingin mendalami satu saja,” kenang Ida.

BACA JUGA:UGM Balas Sindiran Luhut, Ungkap Banyak Penelitian, Salah Satunya Bawang Putih

Usai meraih gelar magister, Aida memilih pulang ke Jombang. Ia terlibat aktif membantu yayasan keluarga, YPI Miftahul Ulum, khususnya di bidang penelitian dan pengembangan.

Yayasan tersebut juga menaungi sejumlah siswa penyandang disabilitas. Di luar itu, Aida menjadi peneliti independen di Jaringan Periset Disabilitas serta aktif dalam berbagai organisasi dan komunitas, termasuk Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama dan komunitas advokasi disabilitas.

Kecintaannya pada dunia tulis-menulis membawanya terlibat dalam berbagai proyek buku, menjadi editor sastra pesantren, serta berkontribusi dalam penerbitan sejumlah karya. Kini, Aida bersiap melangkah ke jenjang doktoral. Pada 2025, ia kembali lolos seleksi LPDP dan menjadi salah satu calon penerima beasiswa S3.

“Kalau ilmunya lebih banyak, insyaallah lebih bermanfaat. Semoga bisa, mohon doanya,” ujarnya.

BACA JUGA:Usia Baru 19 Tahun, Farras Lulus Sarjana Kedokteran UGM, ini Ceritanya

Kepada generasi muda Indonesia, Aida menitipkan pesan sederhana namun mendalam: kepedulian sosial harus berjalan beriringan dengan penguasaan ilmu.

“Peduli itu penting, tapi ilmu juga harus. Ilmu adalah investasi paling berharga untuk perubahan masyarakat,” pungkasnya. (Kompas.com/dri)

Sumber: