Catat, ini Perbedaan Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara

Selasa 04-11-2025,10:34 WIB
Reporter : Dendi Romi
Editor : Dendi Romi

Dari sinilah muncul Kesultanan Jogja yang dipimpin oleh Raden Mas Sujana, bergelar Hamengku Buwono I. Setelah itu, lahir pula dua kadipaten baru, yakni Praja Mangkunegaran pada 1797 di bawah Raden Mas Said, serta Kadipaten Pakualaman pada 1812 oleh Pangeran Notokusumo.

Apa Bedanya Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara?

Setelah mengetahui sejarah singkat berakhirnya Kesultanan Mataram Islam, sekarang mari kita cari tahu yang membedakan empat entitas kerajaan di Jawa ini.

1. Hamengku Buwono

BACA JUGA:Trump Akhiri Kunjungan Kenegaraan ke Inggris, PM Keir Starmer Akan Akui Palestina Sebagai Negara

Menurut penjelasan Peri Mardiono dalam buku Genealogi Kerajaan Islam di Jawa, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri pada tahun 1755 sebagai hasil dari Perjanjian Giyanti. Kesepakatan ini ditandatangani pada 13 Februari 1755 antara Pangeran Mangkubumi dan VOC di bawah Gubernur Jenderal Jacob Mossel.

Perjanjian tersebut membagi wilayah Kerajaan Mataram menjadi dua bagian, yaitu wilayah Kasunanan Solo di bawah Sunan Paku Buwono III dan wilayah Jogja di bawah kekuasaan Pangeran Mangkubumi. Setelah pembagian itu, Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi raja dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I dan memulai pemerintahan sebagai pendiri Kesultanan Jogja.

Nama 'Yogyakarta' berasal dari bentuk lama 'Yodyakarta', gabungan kata Ayodya (kerajaan dalam kisah Ramayana) dan karta (damai). Pemilihan nama ini mencerminkan harapan akan negeri yang makmur dan tenteram. Setelah diangkat sebagai sultan, Hamengku Buwono I segera membangun ibu kota dan keraton baru sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Jogja.

BACA JUGA:Anda Suka Umrah? ini Aturan Baru Visa Pemerintah Arab Saudi

Pada masa kolonial Belanda, kesultanan berstatus negara dependen yang diatur melalui kontrak politik, dengan perjanjian terakhir ditetapkan pada tahun 1940 (Staatsblad 1941 No. 47). Setelah Indonesia merdeka, status politik kesultanan berubah pada tahun 1950, ketika Kesultanan Jogja dan Kadipaten Pakualaman resmi menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta, bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jadi, Hamengku Buwono adalah gelar raja Kesultanan Jogja, dimulai dari Sultan Hamengku Buwono I sebagai pendiri. Gelar ini diwarisi oleh para sultan Jogja berikutnya hingga kini, dan menjadi simbol kepemimpinan, legitimasi politik, serta kesinambungan tradisi kerajaan Mataram di

Jadi, Hamengku Buwono adalah gelar raja Kesultanan Jogja, dimulai dari Sultan Hamengku Buwono I sebagai pendiri. Gelar ini diwarisi oleh para sultan Jogja berikutnya hingga kini, dan menjadi simbol kepemimpinan, legitimasi politik, serta kesinambungan tradisi kerajaan Mataram di wilayah Jogja.

BACA JUGA:Kualifikasi Piala Dunia 2026 - SuperDramatis, Indonesia Kalah 2-3 dari Arab Saudi

Berikut ini adalah daftar sultan yang memimpin Keraton Jogja dari awal berdiri hingga kini:

1. Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792)

2. Sri Sultan Hamengku Buwono II (1792-1828)

Kategori :