- Paku Alam I (1813-1829)
- Paku Alam II (1829-1858)
- Paku Alam III (1858-1864)
- Paku Alam IV (1864-1878)
- Paku Alam V (1878-1900)
- Paku Alam VI (1901-1902)
BACA JUGA:Kualifikasi Piala Dunia 2026 - Belanda Menang 3-2 Atas Lituania
- Paku Alam VII (1903-1937)
- Paku Alam VIII (1937-1989)
- Paku Alam IX (1989-2015)
- Paku Alam X (2015-sekarang)
3. Paku Buwono
Latar belakang berdirinya Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Solo berawal dari masa kemunduran Mataram setelah pemberontakan Trunajaya pada tahun 1677. Akibat kerusuhan itu, Amangkurat II memindahkan ibu kota dari Plered ke Kartasura.
Namun, pada masa Sunan Paku Buwono II, Kartasura hancur akibat pemberontakan Tionghoa tahun 1742. Karena kota itu tak lagi layak dihuni, Paku Buwono II memerintahkan pembangunan ibu kota baru di Desa Sala, di tepi Bengawan Solo. Lokasi ini ditemukan oleh Tumenggung Honggowongso bersama Tumenggung Mangkuyudha dan perwira VOC J.A.B. van Hohendorff.
BACA JUGA:Ngeri, Pemburu Texas Tewas Diseruduk Kerbau Afrika
Pada 17 Februari 1745, Keraton baru resmi ditempati dan diberi nama Surakarta Hadiningrat. Namun, Paku Buwono II wafat pada 1749 setelah menyerahkan kedaulatan Mataram kepada VOC. Sejak saat itu, Belanda memiliki hak untuk melantik raja-raja Mataram. Tak lama kemudian, putranya, Paku Buwono III, naik takhta di Surakarta sebagai penerus kerajaan yang kini berada di bawah pengaruh VOC.